Menjelang
perhelatan pesta politik yang akan diawali dengan pemilihan anggota dewan
legislative april mendatang, setiap Parpol semakin gencar saja melakukan
pendekatan-pendekatan terhadap masyarakat. Melalui kampanye terbuka, setiap
Parpol berlomba-lomba untuk memperkenalkan diri sambil memanjakan telinga dan
mata masyarakat dengan janji-janji yang muluk-muluk untuk kesejahteraan rakyat.
Sebagai tambahannya, masyarakat disuguhi hiburan beragam, dari musik lagu-lagu
popular hingga suguhan goyangan dangdut dengan liukan tubuh biduan mengisi
panggung kampanye.
Setiap
kampanye yangdiselenggarakan menjadi tontonan konser akbar, jadilah orasi dan
pidato visi dan misi partai hanya menjadi alternative lain yang barangkali
masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan para penonton kampanye. Liukan
biduan menjadi lebih menarik dan tontonan utama kampanye. Setiap kampanye pasti
memiliki cerita tersendiri. Walaupun memiliki acara yang hampir sama dari segi
hiburan yang ditampilkan, dalam hal ini dangdut menjadi primadona dengan
biduan-biduan seksi. Setiap partai politik menggelar kampanye besar-besaran
demi memperoleh simpatisan yang banyak dan diharapkan mendulang suara di Tempat
Pemungutan Suara (TPS) nantinya.
Tak
berbeda dengan Parpol lain, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga memanfaatkan
waktu kampanye terbuka yang diberikan oleh Komisi Pemilihan Umum(KPK) untuk
menyebar visi dan misi partainya agar menarik masyarakat untuk memilih. Seperti
kampanye akbar terbuka yang diselenggarakan di lapangan Gelora Bung Karno (GBK)
hari ini (23/03/2014). Kampanye besar-besaran yang diselenggarakan sekaligus
peringatan ulang tahun Gerindra yang ke-6 ini dihadiri langsung oleh Prabowo
Subianto. Calon Presiden Gerindra ini datang dengan menaiki Helikopter dan
bagaikan Prajurit, Prabowo menunggangi kuda coklat mengelilingi GBK untuk
menyalami simpatisan yang datang saat kampanye tersebut.
Tetapi
yang paling menarik tentunya bukanlah aksi menunggangi kuda Prabowo. Pada
kampanye tersebut, menantu Soeharto ini tak lupa menyampaikan orasi politik
sekaligus keunggulan Gerindra dan dirinya dibanding tokoh lain. melihat
banyaknya penonto yang menyemut di GBK, Prabowo mungkin mengiba sehingga
banyaknya pedagang yang juga beraksi mengais rezeki di tengah gerombolan massa
itu menjadi inspirasi yang tiba-tiba muncul di pikirannya untuk men’traktir’
massa yang datang. Maka di tengah-tengah orasi nya, Prabowopun meminta pedagang
untuk membagi-bagikan dagangannya (makanan kecil dan minuman ringan) secara
gratis kepada massa yang hadir. Dengan catatan Ia akan mengganti kerugian
pedagang kecil tersebut.
“Apakah
saudara-saudara haus, pengen minum?” Tanya Prabowo. “Sekarang saatnya
rakyat kecil, para pedagang merdeka. Silahkan semua kasih, nanti bayarannya
minta kepada Taufik (Ketua DPD Gerindra Jakarta),” sambungnya.
(merdeka.com).
Mendengar
perintah tersebut, para pedagang inipun membagi-bagikan dagangannya dengan
senyuman. Tak berselang lama, makanan kecil dan minuman yang dijajakan ludes.
Tetapi senyuman kebahagiaan pedagang-pedagang tersebut tak berlangsung lama.
Menjelang akhir kampanye, para pedagang ini tidak mendapatkan bayaran yang
seimbang dengan yang dikeluarkan. Bahkan pedagang tersebut mengaku mengalami
kerugian besar. Pedagang kecil ini mendadak kesal dan hanya mampu
bersungut-sungut setelah terpaksa menerima bayaran yang tak sesuai. Berikut
beberapa komentar kekcewaan pedagang yang dikutip dari merdeka.com.
“Masak
saya hitung dan ngelayani dengan harga Rp 400 ribu cuma dibayar Rp 200 ribu,
rugi dong saya,” kata Udin, seorang pedagang yang menjadi korban.
“Saya
rugi banyak, ratusan ribu. Masak cuma dibayar Rp 200 ribu, padahal kalau laku
semua lima kali lipatnya. Tadi saya ikut antri untuk menagih pembayaran, tapi
dikasih tidak sesuai dan didorong suruh keluar,” sambung Sudarti seprofesi dengan Udin.
Udin
dan Sudiarti hanyalah dua contoh dari puluhan pedagang yang menjajakan
dagangannya secara gratis di kampanye Gerindra tersebut. Para pedagang merdeka
yang disebutkan Prabowo sebelumnya sepertinya hanya merdeka sesaat saja, di
akhir mereka malah menderita kerugian akibat kampanye tersebut.
Kasus
ini mungkin bisa jadi hanya secuil kasus yang terekspos ke media. Walau pihak
Gerindra merespon dengan menyebut telah membayar seluruh pedagang dengan
bayaran yang pas. Tetapi tetap saja pihak Gerindra meninggalkan kekecewaan
besar pada pedagang-pedagang yang merasa tak mendapat bayaran setimpal. Hal ini
menjadi insiden kecil bagi kampanye Gerindra. Bisa-bisa ini berubah menjadi
peluru memprotes Capres Prabowo yang dinilai tidak membela pedagang kecil.
Mengingat rencana pedagang ini untuk menuntut Prabowo dengan mendatangi kantor
Gerindra.
Kampanye
memang selalu menjadi ajang merayu masyarakat. Segala hal dilakukan untuk
membahagiakan penontonnya. Walau berusaha menuruti aturan KPU untuk meniadakan Money
Politic, tetapi tindakan sejenis seperti membagi-bagikan barang hingga
makanan masih marak terjadi. Walau tak membagikan uang, bukankah sama artinya
dengan membagi-bagikan barang secara gratis? Menghadirkan tontonan dengan
bintang tamu artis-artis nasional dan penyanyi dangdut seksi tak cukup rasanya
bagi Parpol untuk yakin akan dipilih massa. Maka menjamu massa dengan hal-hal
yang gratis menjadi pilihan lain mereka.
Kampanye
Gerindra di GBK hari ini juga menghadirkan artis popular seperti Raffi Ahmad,
Narji, deretan biduan dangdut hingga Luna Maya. Tetapi itu seakan tak cukup,
tawaran Prabowo dengan menggratiskan dagangan orang kecil di acara tersebut
semakin meyakinkan agar memperoleh simpati yang besar. Sangat disayangkan hal
itu justru menindas dan merugikan pedagang-pedagang yang hadir. Semoga saja
Parpol-parpol lain lebih berhati-hati lagi dan makin cerdas dalam
‘bermain’dengan kampanye . Jika tak boleh mensejahterakan atau membantu rakyat
kecil, ada baiknya tidak merugikan mereka.
Seperti
satire yang dibuat Prabowo, dikutip dari liputan6.com : “Boleh bohong asal
santun, boleh nipu asal santun, boleh curi asal santun, boleh khianat asal
santun, boleh ingkar janji asal santun, boleh jual negeri asal santun, boleh
menyerahkan kedaulatan ke asing asal santun.”, saya tambahkan Boleh janji,
asal ditepati. Sayangnya pedagang yang dijanjikan merdeka di tengah orasinya
malah meringis menghitung kerugian yang diterima.
http://politik.kompasiana.com/2014/03/24/traktir-simpatisan-di-gbk-gerindra-dituntut-pedagang-asongan-641106.html

0 komentar:
Posting Komentar