Selasa, 04 Maret 2014

Sepucuk Surat Buat Ukhti dan Terbalaskan (Part 1)



SATU
Putri sedang asyik membaca sebuah buku di bawah teduhnya naungan pohon beringin di taman sekolahnya saat jam istirahat, ketika Echa datang menghampirinya.
“Nih... lihat surat buat kamu!” sodor Echa di muka Putri sambil cengar-cengir.

Gadis kelas 10 itu menoleh kepada Echa, ditutuplah bukunya lantas menggeser posisi duduknya supaya Echa bisa duduk di bagian yang teduh di bawah bayangan pohon beringin itu.
            “Surat? Dari siapa?” tanya Putri polos...
            “Iiiyaa... ini surat balesan dari Ka’Is yang kamu taksir itu... masa kamu lupa?!!” ujar Echa sambil ngedipin mata.

            “Owh... ya? Siniiin...” sahut Putri sumingrah.
            “Eh... buka dong! Penasaran nich... apa sich jawabannya??” ucap Echa gak sabaran. Matanya liar menatap surat itu.
            “Ogah!” elak Putri.
            “Iiich... jahat banget dech!!!” sahut Echa sebel.
“Ya nggak dong, ini kan buat aku pribadi.” kata Putri sambil tersenyum.
“Tri, kamu beneran suka sama Ka’Is? Kamu naruh hati sama dia? Kamu tau kan Dia itu ketua rohis, alim banget, jalannya nunduk mulu, dingin kalo lagi ngobrol dengan cewek. Kalopun ngobrol pasti bawaannya tentang agama terus. Nggak banget deh! Nggak takut bosen kalo kamu ntar jadian terus tiap saat diceramahin, ini salah itu salah, harus begini harus begitu, gak boleh ini gak boleh itu, harus begini dan begitu!” cerocos Echa.
Putri hanya diam, dia tak menghiraukan pembicaraan kawannya itu. Hatinya diliputi bahagia yang tak terkira, dia tatap lekat-lekat surat beramplop putih polos itu dengan penuh arti.

DUA
            Sepulang sekolah, setelah mengganti seragam putih abu-abu dengan pakaian dan jilbab rumah, Putri mulai membuka surat itu... dan..

Teruntuk Ukhti Putri
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ukhti bagaimana kabarmu? Mudah-mudahan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin...
            To The  point  ya sebenernya Ka’Is menulis surat ini bukan semata-mata membalas surat ukhti beberapa waktu silam, melainkan karena hati Ka’Is tergugah untuk meluruskan sesuatu yang Ka’Is rasa bengkok dalam surat itu. Meski jujur KaIs akui itu adalah surat cinta pertama yang Ka’Is dapatkan.
            Ukhti, jika engkau mencintai sesuatu, cintailah karena Allah, berusahalah tuk mendapatkan keridhoanNya. Dengan cintaNya, dengan kasih sayangNya. Usahakanlah bagi ukhti, untuk dapat menarik simpati Allah saja. Janganlah ukhti berlaku berlebihan dihadapan manusia ( untuk menarik simpati mereka ) sehingga diri ukhti kepayahan olehnya. Janganlah ukhti seperti itu, walau hasilnya besar. Ukhti mendapatkan simpati dan sanjungan dari manusia, namun ukhti menjadi lupa bagaimana cara menarik simpati Allah.
            Pabila ukhti mencintai seseorang, cintailah ia tanpa melebihi cinta ukhti kepada Allah, cintailah ia tanpa harus menggadaikan cinta ukhti kepada Allah. Jikalau ia berlaku salah, ukhti harus berani menegurnya, tanpa melihat besar kecilnya kesalahan dia. Sebab itu janganlah ukhti cinta buta. Ingatlah, cinta karena Allah, dan mengharapkan keridhoanNya, serta ikhlas atas apa karena Allah, adalah lebih baik pabila ukhti mengetahui.
            Cintailah seseorang bukan dari kedudukannya di dunia, cintailah seseorang bukan karena harta yang dia miliki. Akan tetapi, cintailah seseorang karena ketaqwaannya kepada Allah. Jikalau ukhti mencintai ia karena harta ( kekayaan ), maka kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati yang senantiasa mengingat Allah. Cintailah seseorang karena ia bisa menjadi pemimpin yang membawa ukhti ke jalan yang lurus, menuju syurgaNya dan cintailah seseorang karena ia mencintai ukhti pun karena Allah.
            Andaikata ukhti menerima cintanya, ia tak akan mengucapkan sesuatu apapun kecuali seuntai kalimat ini: ‘sesungguhnya ini adalah kehendak Allah yang telah membukakan hatimu selapang-lapangnya bagi cinta yang ku bawa.’ Dan dia tidak berjanji ( dengan janji yang muluk dan melelapkan ) hanyalah ia berusaha untuk mengajak ukhti ke jalan yang diridhoi olehNya.
            Jika saja ukhti menolak cintanya, ia hanya berkata: ‘sesungguhnya aku ikhlas dengan ketetapan Allah dan ridho atas apa yang telah Allah karuniakan ( berupa kesempatan untuk mengungkapkan cintanya ) bagiku. Tidak selalu apa yang aku  harapkan menjadi nyata, namun aku bersyukur telah mengenal dirimu. Dan aku yakin Allah telah menyediakan pasangan bagiku.’ ( walau sebenarnya ketika mengucapkan kalimat ini hatinya telah remuk redam dan ia tidak tahu dimana kelak pasangannya akan hadir ). Dan dia tidak memusuhi atau mendiamkan diri jika berjumpa lagi dengan ukhti. Ia akan tetap menjalin tali silaturrahim dan senantiasa akan selalu membantu ukhti.
            Ukhti maaf, jika kata-kata Ka’Is menyakiti hati ukhti atas apa yang telah ukhti yakini selama ini. Tapi Ka’Is gak bisa berkata selain harus mengungkapkan yang sebenarnya. Karena Ka’Is tidak mau membuat ukhti salah paham atas sikap Ka’Is kepada ukhti selama ini pun terhadap surat Ka’Is ini. Maafkan Ka’Is...
            Bila memang Allah menakdirkan, berdo’alah kepada Allah demi kebaikan dan ketulusan atas cinta yang engkau miliki itu. Cukup kepada Allah lah engkau akui memiliki cinta dan jangan beritahukan cinta itu kepada manusia, cukup cintai dalam diam. Insya Allah, segalanya akan sesuai dengan kehendak-Nya.
            Wassalamu’alaikum Wr. Wb                                     
Ismiyanto
Butir-butir air mata mengalir menganak sungai tak tertahankan. Isak tangis mulai berpadu melantunkan sendu, sebuah desah pilu... Jilbab itu semakin basah oleh air mata yang jatuh tak terbandung, pun bercucuran membasahi surat tak tercegah. Gadis itu hanya diam terpaku. Dalam tangis ia sadari kekhilafannya.

TIGA
Enam tahun kemudian…
“Mbak..! Mbak Putri.” sebuah sapaan ramah meluncur dari seorang perempuan kepada Putri.
“Oh, Mbak Nisa, iya maaf mbak tadi nggak keperhatiin.” balas Putri tersenyum kemudian saling berpelukan.
“Iya, nggak apa-apa, Nisa cuma ingin ngasih tau Mbak, nanti sore rombongan relawan bencana alam di Garut Selatan akan berangkat. Mbak ikut kan?” tanya perempuan yang dipanggil Nisa itu.
“Siap, Insya Allah. Eh, iya, untuk logistik tadi saya dapat bantuan lagi dari teman-teman jurusan untuk para korban bencana.”
“Alhamdulillah, ok Mbak. Maaf ya, Nisa pamit dulu, masih ada kesibukan. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah.” Jawab Putri.
Waktu, ternyata dapat mengubah seseorang. Siapa yang akan menyangka bila seiring berjalannya waktu, Putri dapat berubah menjadi seperti sekarang. Menjadi seorang muslimah yang selalu belajar untuk menjadi baik. Selalu berusaha untuk membagikan kebaikan dan berbagi kebahagiaan bahwa dekat dengan Allah itu nyaman adanya.
Rasanya, hidup ini memang begitu menakjubkan dan penuh dengan segala sesuatu yang tak dapat ditebak. Dengan penuh rasa syukur Putri memanjatkannya kepada Allah atas limpahan kasih sayang, perhatian dan tentu saja cintaNya sehingga dibimbing menuju jalan yang lurus dan penuh amal kebaikan. Menjaga hidayah yang telah Allah berikan.
Kini, Putri sudah tingkat akhir di Jurusan Jurnalistik Fakultas Komunikasi sebuah Kampus Islam di Cibiru. Dia aktif dalam kegiatan dakwah di kampusnya lewat Lembaga Dakwah Kampus dan ikut terjun dalam politik kampus meskipun tidak secara langsung. Selain itu, dia pun menyenangi dunia jurnalistik sebagaimana jurusan yang diambilnya. Sehari-hari dia membawa kamera digital untuk memotret hiruk pikuk denyut nadi kehidupan di sekitarnya. Cita-citanya yang ingin menjadi bagian dari jurnalis peradaban membuatnya selalu bersemangat untuk mencari informasi yang bisa dijadikan berita menjadikan dia aktif sebagai jurnalis di sebuah radio Islam di daerah Ledeng. Selain itu, dia meminati dunia sastra seperti menulis puisi dan cerpen. Beberapa puisinya dipublikasikan dalam bentuk antologi bersama rekan-rekannya di komunitas sastra. Sementara cerpen-cerpennya telah di muat jurnal-jurnal sastra.

EMPAT
Sore itu, Putri sedang berada di sebuah rumah makan dekat kampus bersama Mbak Ira, seniornya di kampus yang sudah wisuda sekaligus guru ngajinya. Suasananya sepi, hanya meja yang mereka tempati yang terisi, sementara gerimis mengguyur kota Bandung sejak siang tadi.
“Dik, ada sebuah amanat yang harus mbak sampaikan.” Kalimat Mbak Ira membuka percakapan.
“Apa itu, mbak?”
Mbak Ira menarik nafas cukup dalam  lalu berkata,
“Tiga hari yang lalu, suami mbak, Mas Irfan minta tolong katanya ada temannya yang ingin menikah. Temannya itu bilang kepada mas Irfan untuk bantuin mengkhitbahkan seorang akhwat untuknya. Mas Irfan tahu nama akhwat tersebut dan tahu bahwa akhwat itu dekat dengan mbak. Maka Mas Irfan minta mbak untuk bantu menyampaikan perihal ini kepada akhwat tersebut.”
Mbak Ira berhenti sejenak untuk meminum orange juice nya kemudian meneruskan..
“Dik, amanat yang mbak pegang itu adalah, teman mas Irfan tersebut ingin mengkhitbahmu, Putri Praningtias!” pungkas Mbak Ira.
Putri bagaikan tersengat aliran listrik, dia sangat terkejut mendengar pernyataan dari Mbak Ira yang tak diduga sebelumnya itu. Pandangannya nanar, ada air mata yang menetes. Wajahnya tertunduk malu, hatinya berkecamuk, jiwanya bergejolak, pikirannya buyar entah kemana.
“Mbak..” ucapan Putri terdengar lirih sambil terisak dalam tangisnya, “Salahkah, bila Putri memendam harapan pada seseorang?” kalimatnya bergetar.
Mbak Ira hanya tersenyum.
Kemudian Putri menceritakan sesuatu yang telah enam tahun dia pendam dalam hati. Sebuah cerita ketika SMA. Sebuah pengharapan cinta kepada seseorang. Wajah teduh yang selalu ada dalam benaknya. Kehalusan budi pekerti orang itu yang membekas dalam hatinya. Terekam dalam ingatannya. Kenekatanya untuk mengirim sebuah surat cinta, kebahagiaannya saat suratnya berbalas dari orang tersebut. Hatinya yang bergetar saat membaca isi surat tersebut, kesedihan karena cintanya ditolak, nasehat tentang cinta dari orang itu yang menghujam dalam qalbunya. Isak tangis saat dia menyadari segala khilafnya. Niatan untuk mencintai dalam diam kepada orang tersebut yang akhirnya dia pendam dalam hati selama ini. Dan azzam untuk mengubah alur hidupnya menjadi seorang muslimah yang baik sejak saat itu.
Mbak Ira terharu mendengarkan cerita tersebut, “Dik, engkau sungguh mencintainya?”
Putri hanya mengangguk lemah.
“Engkau mengetahui dimana sekarang dia berada?”
Putri menggelengkan kepalanya....
 Tunggu Part 2 nya....
Penulis : HD Gumilang

0 komentar:

Posting Komentar

 

Page Views

Subscribe via Email
Flag Counter

Histats

About