SATU
Putri sedang asyik membaca sebuah buku di bawah teduhnya
naungan pohon beringin di taman sekolahnya saat jam istirahat, ketika Echa
datang menghampirinya.
“Nih... lihat surat buat
kamu!” sodor Echa di muka Putri sambil cengar-cengir.
Gadis kelas 10 itu
menoleh kepada Echa, ditutuplah bukunya lantas menggeser posisi duduknya supaya
Echa bisa duduk di bagian yang teduh di bawah bayangan pohon beringin itu.
“Surat?
Dari siapa?” tanya Putri polos...
“Iiiyaa... ini surat balesan dari Ka’Is yang kamu taksir itu... masa kamu lupa?!!” ujar Echa sambil ngedipin mata.
“Owh...
ya? Siniiin...” sahut Putri sumingrah.
“Eh...
buka dong! Penasaran nich... apa sich jawabannya??” ucap Echa gak sabaran.
Matanya liar menatap surat itu.
“Ogah!”
elak Putri.
“Iiich... jahat banget dech!!!” sahut Echa sebel.
“Ya nggak dong, ini
kan buat aku pribadi.” kata Putri sambil tersenyum.
“Tri, kamu beneran
suka sama Ka’Is? Kamu naruh hati sama dia? Kamu tau kan Dia itu ketua rohis,
alim banget, jalannya nunduk mulu, dingin kalo lagi ngobrol dengan cewek.
Kalopun ngobrol pasti bawaannya tentang agama terus. Nggak banget deh! Nggak
takut bosen kalo kamu ntar jadian terus tiap saat diceramahin, ini salah itu salah,
harus begini harus begitu, gak boleh ini gak boleh itu, harus begini dan
begitu!” cerocos Echa.
Putri hanya diam,
dia tak menghiraukan pembicaraan kawannya itu. Hatinya diliputi bahagia yang
tak terkira, dia tatap lekat-lekat surat beramplop putih polos itu dengan penuh
arti.
DUA
Sepulang
sekolah, setelah mengganti seragam putih abu-abu dengan
pakaian dan jilbab rumah, Putri mulai membuka surat itu... dan..
Teruntuk Ukhti Putri
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ukhti bagaimana kabarmu? Mudah-mudahan senantiasa dalam
lindungan Allah SWT. Aamiin...
To The point
ya sebenernya Ka’Is menulis surat ini bukan semata-mata membalas surat ukhti
beberapa waktu silam, melainkan karena hati Ka’Is tergugah untuk meluruskan
sesuatu yang Ka’Is rasa bengkok dalam surat itu. Meski jujur Ka’Is akui itu adalah surat cinta pertama yang Ka’Is
dapatkan.
Ukhti,
jika engkau mencintai sesuatu, cintailah karena Allah, berusahalah tuk
mendapatkan keridhoanNya. Dengan cintaNya, dengan kasih sayangNya. Usahakanlah bagi ukhti, untuk dapat menarik simpati
Allah saja. Janganlah ukhti berlaku berlebihan dihadapan manusia ( untuk
menarik simpati mereka ) sehingga diri ukhti kepayahan olehnya. Janganlah ukhti
seperti itu, walau hasilnya besar. Ukhti mendapatkan simpati dan sanjungan dari
manusia, namun ukhti menjadi lupa bagaimana cara menarik simpati Allah.
Pabila
ukhti mencintai seseorang, cintailah ia tanpa melebihi cinta ukhti kepada
Allah, cintailah ia tanpa harus menggadaikan cinta ukhti kepada Allah. Jikalau
ia berlaku salah, ukhti harus berani menegurnya, tanpa melihat besar kecilnya
kesalahan dia. Sebab itu janganlah ukhti cinta buta. Ingatlah, cinta karena
Allah, dan mengharapkan keridhoanNya, serta ikhlas atas apa karena Allah, adalah
lebih baik pabila ukhti mengetahui.
Cintailah seseorang bukan dari kedudukannya di dunia, cintailah seseorang bukan
karena harta yang dia miliki. Akan tetapi, cintailah seseorang karena
ketaqwaannya kepada Allah. Jikalau ukhti mencintai ia karena harta ( kekayaan
), maka kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati yang senantiasa mengingat
Allah. Cintailah seseorang karena ia bisa menjadi pemimpin yang membawa ukhti
ke jalan yang lurus, menuju syurgaNya dan cintailah seseorang karena ia mencintai
ukhti pun karena Allah.
Andaikata ukhti menerima cintanya, ia tak akan mengucapkan sesuatu apapun
kecuali seuntai kalimat ini: ‘sesungguhnya ini adalah kehendak Allah yang telah
membukakan hatimu selapang-lapangnya bagi cinta yang ku bawa.’ Dan dia tidak
berjanji ( dengan janji yang muluk dan melelapkan ) hanyalah ia berusaha untuk
mengajak ukhti ke jalan yang diridhoi olehNya.
Jika
saja ukhti menolak cintanya, ia hanya berkata: ‘sesungguhnya aku ikhlas dengan
ketetapan Allah dan ridho atas apa yang telah Allah karuniakan ( berupa
kesempatan untuk mengungkapkan cintanya ) bagiku. Tidak selalu apa yang
aku harapkan menjadi nyata, namun aku bersyukur telah mengenal dirimu. Dan
aku yakin Allah telah menyediakan pasangan bagiku.’ ( walau sebenarnya ketika
mengucapkan kalimat ini hatinya telah remuk redam dan ia tidak tahu dimana
kelak pasangannya akan hadir ). Dan dia tidak memusuhi atau mendiamkan diri
jika berjumpa lagi dengan ukhti. Ia akan tetap menjalin tali silaturrahim dan
senantiasa akan selalu membantu ukhti.
Ukhti
maaf, jika kata-kata Ka’Is menyakiti hati ukhti atas apa yang
telah ukhti yakini selama ini. Tapi Ka’Is gak bisa berkata selain harus
mengungkapkan yang sebenarnya. Karena Ka’Is tidak mau membuat ukhti salah paham
atas sikap Ka’Is kepada ukhti selama ini pun terhadap surat Ka’Is ini. Maafkan
Ka’Is...
Bila memang Allah menakdirkan, berdo’alah kepada
Allah demi kebaikan dan ketulusan atas cinta yang engkau miliki itu. Cukup
kepada Allah lah engkau akui memiliki cinta dan jangan beritahukan cinta itu
kepada manusia, cukup cintai dalam diam. Insya
Allah, segalanya akan sesuai dengan kehendak-Nya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Ismiyanto
Butir-butir air mata mengalir menganak sungai tak tertahankan. Isak tangis
mulai berpadu melantunkan sendu, sebuah desah pilu... Jilbab itu semakin basah
oleh air mata yang jatuh tak terbandung, pun bercucuran membasahi surat tak
tercegah. Gadis itu hanya diam terpaku. Dalam tangis ia sadari kekhilafannya.
TIGA
Enam tahun
kemudian…
“Mbak..! Mbak
Putri.” sebuah sapaan ramah meluncur dari seorang perempuan kepada Putri.
“Oh, Mbak Nisa, iya
maaf mbak tadi nggak keperhatiin.” balas Putri tersenyum kemudian saling
berpelukan.
“Iya, nggak
apa-apa, Nisa cuma ingin ngasih tau Mbak, nanti sore rombongan relawan bencana
alam di Garut Selatan akan berangkat. Mbak ikut kan?” tanya perempuan yang
dipanggil Nisa itu.
“Siap, Insya Allah.
Eh, iya, untuk logistik tadi saya dapat bantuan lagi dari teman-teman jurusan
untuk para korban bencana.”
“Alhamdulillah, ok
Mbak. Maaf ya, Nisa pamit dulu, masih ada kesibukan. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam
warahmatullah.” Jawab Putri.
Waktu, ternyata
dapat mengubah seseorang. Siapa yang akan menyangka bila seiring berjalannya
waktu, Putri dapat berubah menjadi seperti sekarang. Menjadi seorang muslimah
yang selalu belajar untuk menjadi baik. Selalu berusaha untuk membagikan
kebaikan dan berbagi kebahagiaan bahwa dekat dengan Allah itu nyaman adanya.
Rasanya, hidup ini
memang begitu menakjubkan dan penuh dengan segala sesuatu yang tak dapat
ditebak. Dengan penuh rasa syukur Putri memanjatkannya kepada Allah atas
limpahan kasih sayang, perhatian dan tentu saja cintaNya sehingga dibimbing
menuju jalan yang lurus dan penuh amal kebaikan. Menjaga hidayah yang telah
Allah berikan.
Kini, Putri sudah
tingkat akhir di Jurusan Jurnalistik Fakultas Komunikasi sebuah Kampus Islam di
Cibiru. Dia aktif dalam kegiatan dakwah di kampusnya lewat Lembaga Dakwah
Kampus dan ikut terjun dalam politik kampus meskipun tidak secara langsung.
Selain itu, dia pun menyenangi dunia jurnalistik sebagaimana jurusan yang
diambilnya. Sehari-hari dia membawa kamera digital untuk memotret hiruk pikuk
denyut nadi kehidupan di sekitarnya. Cita-citanya yang ingin menjadi bagian
dari jurnalis peradaban membuatnya selalu bersemangat untuk mencari informasi
yang bisa dijadikan berita menjadikan dia aktif sebagai jurnalis di sebuah
radio Islam di daerah Ledeng. Selain itu, dia meminati dunia sastra seperti
menulis puisi dan cerpen. Beberapa puisinya dipublikasikan dalam bentuk
antologi bersama rekan-rekannya di komunitas sastra. Sementara cerpen-cerpennya
telah di muat jurnal-jurnal sastra.
EMPAT
Sore itu, Putri
sedang berada di sebuah rumah makan dekat kampus bersama Mbak Ira, seniornya di
kampus yang sudah wisuda sekaligus guru ngajinya. Suasananya sepi, hanya meja
yang mereka tempati yang terisi, sementara gerimis mengguyur kota Bandung sejak
siang tadi.
“Dik, ada sebuah
amanat yang harus mbak sampaikan.” Kalimat Mbak Ira membuka percakapan.
“Apa itu, mbak?”
Mbak Ira menarik
nafas cukup dalam lalu berkata,
“Tiga hari yang
lalu, suami mbak, Mas Irfan minta tolong katanya ada temannya yang ingin
menikah. Temannya itu bilang kepada mas Irfan untuk bantuin mengkhitbahkan
seorang akhwat untuknya. Mas Irfan tahu nama akhwat tersebut dan tahu bahwa
akhwat itu dekat dengan mbak. Maka Mas Irfan minta mbak untuk bantu
menyampaikan perihal ini kepada akhwat tersebut.”
Mbak Ira berhenti
sejenak untuk meminum orange juice nya kemudian meneruskan..
“Dik, amanat yang
mbak pegang itu adalah, teman mas Irfan tersebut ingin mengkhitbahmu, Putri
Praningtias!” pungkas Mbak Ira.
Putri bagaikan
tersengat aliran listrik, dia sangat terkejut mendengar pernyataan dari Mbak
Ira yang tak diduga sebelumnya itu. Pandangannya nanar, ada air mata yang
menetes. Wajahnya tertunduk malu, hatinya berkecamuk, jiwanya bergejolak,
pikirannya buyar entah kemana.
“Mbak..” ucapan
Putri terdengar lirih sambil terisak dalam tangisnya, “Salahkah, bila Putri
memendam harapan pada seseorang?” kalimatnya bergetar.
Mbak Ira hanya
tersenyum.
Kemudian Putri
menceritakan sesuatu yang telah enam tahun dia pendam dalam hati. Sebuah cerita
ketika SMA. Sebuah pengharapan cinta kepada seseorang. Wajah teduh yang selalu
ada dalam benaknya. Kehalusan budi pekerti orang itu yang membekas dalam
hatinya. Terekam dalam ingatannya. Kenekatanya untuk mengirim sebuah surat
cinta, kebahagiaannya saat suratnya berbalas dari orang tersebut. Hatinya yang
bergetar saat membaca isi surat tersebut, kesedihan karena cintanya ditolak,
nasehat tentang cinta dari orang itu yang menghujam dalam qalbunya. Isak tangis
saat dia menyadari segala khilafnya. Niatan untuk mencintai dalam diam kepada
orang tersebut yang akhirnya dia pendam dalam hati selama ini. Dan azzam untuk
mengubah alur hidupnya menjadi seorang muslimah yang baik sejak saat itu.
Mbak Ira terharu
mendengarkan cerita tersebut, “Dik, engkau sungguh mencintainya?”
Putri hanya
mengangguk lemah.
“Engkau mengetahui
dimana sekarang dia berada?”
Putri menggelengkan
kepalanya....
Tunggu Part 2 nya....
Penulis : HD Gumilang

0 komentar:
Posting Komentar