“Mbak boleh tau,
siapa nama orang itu?”
“Namanya.. Is…
Ismiyanto…”
“Hah, Ismiyanto?!”
“Iya, kenapa Mbak?”
“Taukah, bahwa
Ismiyanto itu… adalah nama orang yang ingin mengkhitbahmu!!”
“Be.. benarkah,
Mbak??” tutur Putri terbata, “ Ismiyanto yang dulu SMA sama dengan saya?”
Mbak Ira
mengangguk.
“Yang dulu aktif di
rohisnya?”
Kembali mbak Ira
mengangguk, kini butir air mata mulai menetes dari matanya.
“Ya Allah…
Allahuakbar… Allahuakbar… Allah… Allahuakbar…” takbir Putri terdengar lirih,
Lantas dia beranjak dari kursinya dan memeluk Mbak Ira, menangis sedu sedan
dalam dekapan hangat Mbak Ira.
“Subhanallah, inilah
jalan yang Allah peruntukkan bagimu dik. Jalan cinta yang agung yang hanya
diberikan kepada hambaNya yang ikhlas dan ridho terhadap ketetapanNya.”
Sejurus kemudian
Mbak Ira menunjukkan selembar foto Ismiyanto, untuk memastikan bahwa dia tidak
keliru. Secepat kilat Putri mengangguk, bahwa memang itu adalah Ismiyanto, yang
selama enam tahun ini dia cintai dalam diam dan tak seorang manusia pun
mengetahuinya. Seketika itu pula Putri teringat kalimat Ismiyanto dalam
suratnya.
“Cukup kepada
Allah lah engkau akui memiliki cinta dan jangan beritahukan cinta itu kepada
manusia, cukup cintai dalam diam. Insya Allah, segalanya akan sesuai
dengan kehendak-Nya.”
LIMA
Minggu sore itu,
tiga hari setelah peristiwa peminangan Ismiyanto melalui Mbak Ira kepadanya, seluruh
keluarga Putri sedang berkumpul. Memang cukup sulit bagi Putri mengumpulkan
keluarganya, padahal keinginan menyampaikan berita gembira itu sudah membuncah
sejak detik dimana dia dikhitbah melalui Mbak Ira. Namun kesibukan ayahnya yang
seorang Polisi di Kota Bandung dan memiliki jabatan tinggi pada institusinya,
aktivitas Ibu nya yang mengajar sebagai dosen di berbagai kampus serta
keasyikan adiknya dengan dunianya sendiri menyulitkan dia untuk berinteraksi
dengan mereka semua. Sementara kakaknya sendiri kini sedang bekerja sebagai
staf ahli multimedia di luar pulau Jawa.
Terus terang, Putri
seringkali merasa hampa, sendiri dirumahnya. Karena itulah dia selalu mencari
kesibukan dan berbagai aktivitas. Selain berkecimpung di dunia jurnalistik dan
komunitas sastra. Dia pun aktif memberikan privat kepada anak-anak SMP di
sebuah lembaga privat, kemudian ikut les Biola di dekat rumahnya di bilangan
Jatinangor. Namun, Putri tetap bersyukur, karena dengan kerumitan kondisi
keluarganya ini, dia masih menyalurkan segalanya dalam wadah positif.
Seringkali dia sedih saat melihat realitas anak-anak broken home yang
salah jalan, pergaulan bebas, dekat dengan narkoba dan berbagai macam kenakalan
remaja lainnya.
Dan Putri pun ingin
merangkul mereka, membawa mereka supaya dekat kepada Allah, memberitahukan pada
mereka yang salah jalan itu bahwa dekat dengan Allah itu ternyata indah, nyaman
dan penuh kenikmatan. Berbagi kebahagiaan dan berbagi hidayah sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Allah seru sekalian alam karena Putri menyadari, tanpa
bantuanNya, mungkin dia tidak akan seperti ini sekarang.
Maka, sore itu
ditemani Mbak Ira yang memang sengaja datang untuk menemaninya, dia
mengutarakan yang beberapa hari ini tertunda.
Semuanya berjalan
lancar, Mbak Ira membantu menyampaikan maksud khitbah dari seorang bernama
Ismiyanto kepada Putri. Kemudian menceritakan kepribadian Ismiyanto, bahwa dia
shalih dan dari keluarga yang taat beragama insya Allah, sudah lulus SI Jurusan
Sejarah sebuah universitas di Jogjakarta dengan predikat memuaskan, kini
bekerja sebagai peneliti di Museum Sribaduga Bandung sekaligus dia menjadi
salah satu founder yayasan sosial yang membantu kaum dhuafa dan yatim
piatu. Ternyata respon Bapak dan Ibu Putri sangat baik. Terlebih setelah mereka
tau bahwa Putri sudah mengenal Ismiyanto sejak SMA namun rasa cinta Putri itu
dipendam dalam hati selama enam tahun hingga Putri sendiri tidak mengetahui
dimanakah keberadaan Ismiyanto selama ini sampai pada akhirnya Allah kembali
mempertemukan mereka melalui Mbak Ira saat ini.
“Boleh bapak
lihat foto dia, nak?” pinta Bapak Putri. Kemudian Mbak Ira menyerahkan selembar
Foto Ismiyanto kepada beliau.
Wajah Pak Iskandar
mendadak berkerut, pucat, dan keanehan lainnya.
“TIDAK!” suara Pak
Iskandar menggelegar secara mengejutkan.
Seketika suasana
ruangan itu hening, sunyi senyap. Semuanya terkejut.
“Tidak, tidak apa
pak?” sahut Putri penuh tanya, sementara Ibu dan Mbak Ira terheran-heran.
“TIDAK! Bapak tidak
akan menikahkan kamu dengan anak ini!”
“kenapa, pak?”
Tanya Putri parau, serasa harapan dalam hatinya dikikis dengan silet, sakit
sekali.
“Lihat, penampilan
wajahnya seperti teroris! Jidat hitam. Ada janggut tipisnya, wajahnya yang
penuh sorot yang bapak tidak sukai.”
“Tapi Pak..” sergah
Mbak Ira, “Dia bukan teroris, penampilannya sangat islami seperti itu karena
dia aktif di Lembaga Dakwah Kampus di Jogjakarta.”
“Pokoknya bapak
tidak suka. Kamu tau, bapak polisi. Bapak tau sifat seseorang dilhat dari
wajahnya. Pokoknya tidak, bapak tidak setuju Putri menikah dengan dia!”
Keputusan final
Bapak bagaikan palu godam yang menghujam hati Putri dengan sangat telak.
Harapan yang sempat dia renda dengan seutuh hati harus hancur seperti itu saja.
Semua terdiam, tak
ada yang berani membantah kalimat pamungkas Pak Iskandar itu.
ENAM
Genap seminggu
sejak peristiwa penolakan bapak atas khitbah Ismiyanto, hati Putri masih belum
pulih benar atas kenyataan yang harus dihadapinya. Rasa cintanya begitu dalam
kepada Ismiyanto. Dan ada rasa sakit ketika Ismiyanto dituduh oleh bapaknya
sendiri memiliki wajah teroris hanya karena dia memelihara janggut. Apakah
benar seperti itu? Dan apakah memang seperti itu semua polisi memandang setiap
lelaki yang berjanggut? Lalu jika demikian, maka setiap orang yang berjanggut
baik yang ada di masjid, yang jadi supir angkot, yang jadi cleaning service,
yang jaga warung, yang selama ini berceramah dimana-mana, semua itu
berarti teroris? Ah, jika memang demikian maka alangkah sempitnya pemikiran
bapaknya itu, desah Putri dalam hatinya.
“Astagfirullah Aku
tidak boleh berburuk sangka. Bagaimanapun juga, beliau bapakku, yang
membesarkanku. Ya Allah, ampuni aku.”
Dan pada akhirnya
dia menyadari bahwa cinta kepada Allah harus lebih utama dan lebih dalam.
“Ukhti, jika engkau mencintai
sesuatu, cintailah karena Allah, berusahalah tuk mendapatkan keridhoanNya. Dengan cintaNya, dengan kasih sayangNya. Usahakanlah bagi ukhti, untuk dapat menarik simpati
Allah saja. Janganlah ukhti berlaku berlebihan dihadapan manusia ( untuk
menarik simpati mereka ) sehingga diri ukhti kepayahan olehnya. Janganlah ukhti
seperti itu, walau hasilnya besar. Ukhti mendapatkan simpati dan sanjungan dari
manusia, namun ukhti menjadi lupa bagaimana cara menarik simpati Allah.”
Dia kembali
teringat nasehat Ismiyanto dalam surat itu enam tahun yang lalu. Putri sadar,
Ismiyanto benar, seharusnya cinta kepada Allah harus di utamakan. Jangan
berpikir untuk mendapatkan simpati dari manusia sementara dia akhirnya lupa
bagaimana cara menarik simpati Allah. Maka dengan segenap ridho atas kejadian
itu, Putri memilih untuk kembali bersemangat di jalanNya. Yakin bahwa jodohnya
sudah ada dalam lauh mahfudz. Tak ada masalah, semuanya Allah yang membuat
skenario kehidupannya.
“Bapak akan carikan
Putri jodoh, kalau Putri memang sudah ingin menikah. Tapi bukan dengan lelaki
yang kemarin itu.” Bilang pak Iskandar.
Putri membisu di
kamarnya. Pak Iskandar mengelus dengan lembut rambut anaknya itu. Sebetulnya
Putri tau benar betapa besar rasa sayang orangtua kepadanya. Mereka
menginginkan anaknya ini menikah dengan lelaki yang betul-betul bisa
menjaganya.
TUJUH
Smartphone Putri
berdering..
“Telepon dari
Bapak? Heran tak biasanya bapak menelepon siang hari seperti ini.
Assalamu’alaikum, ada apa pak?” sapa Putri menjawab telepon.
“Wa’alaikum salam.
Kamu dimana, Nak?”
“Di kampus pak. Ada
apa?”
“Kamu ke Rumah
Sakit Al Islam sekarang! Segera.”
“Lho, ada apa?
Putri ke sana sekarang.”
Dengan penuh tanda
Tanya, Putri menuju parkiran kampus, menstarter Mio Putihnya lalu berangkat
menuju Al Islam.
TUJUH
Lantai dua Rumah
Sakit Al Islam saat itu Nampak tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang
lalu lalang menyusuri koridornya. Di sebuah sudut tempat duduk, Pak Iskandar
sedang gelisah, bibirnya tak henti berdo’a. tak lama kemudian, Putri datang
dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa, pak?”
kata Putri mengatur nafasnya yang terengah.
Pak Iskandar
langsung memeluk anak perempuannya ini dengan penuh haru, baju dinasnya sudah
basah oleh keringat dari tadi.
“Maaf..
maafkan bapak, nak. Maafkan bapak..” sebuah kalimat pelan terucap dari
bapaknya.
“Kenapa bapak minta
maaf?”
“Duduk.. duduklah
nak. Akan bapak ceritakan.”
Lalu keduanya
duduk, angin berhembus pelan membelai jilbab hijau panjang milik Putri.
“Beberapa hari lalu
bapak ikut shalat jum’at di Masjid Raya Bandung. Isi khutbahnya menarik sekali.
Khatib menceritakan mengenai esensi kehidupan kita di dunia ini bahwa
sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Perasaan bapak seperti
diaduk-aduk, penuh penyesalan bahwa selama ini hidup bapak tidak baik. Bapak berpikir,
bagaimana jika suatu hari nanti bapak meninggal namun tidak memiliki bekal yang
cukup untuk menghadapi pengadilan Allah di hari kiamat kelak. Sungguh
penjelasan khatib muda itu begitu menyentuh hati bapak. Betapa kehidupan
manusia di dunia ini sangat singkat sementara amanah yang dibebankan itu sangat
banyak dan rasanya tidak akan selesai dengan rentang waktu usia kita yang
sangat terbatas ini. Dan kita dianjurkan untuk mengoptimalkan sisa waktu yang
dimiliki ini untuk menabung amal kebaikan, bermanfaat bagi banyak orang karena
semua itu adalahh anjuran dari Allah. Bapak perhatikan wajah khatib muda itu,
rasanya bapak kenal tapi tidak tau dimana. Maka ya sudah, bapak tidak ambil
pusing, mungkin kenal dijalan.
Lalu, pagi tadi bapak bersama beberapa petugas
kepolisian lain melakukan penggerebekan terhadap Bandar judi di sekitar Peti
Kemas Gedebage. Bapak ikut melakukan pengejaran terhadap gembong Bandar judi
itu. Menembakan tembakan peringatan ke udara. Fokus bapak adalah si gembongnya
itu. Tapi dia tidak mau menyerahkan diri, maka bapak terus mengejarnya. Hingga
tiba di jalan raya Sukarno-Hatta bapak tidak berani melakukan tembakan karena
banyak warga. Ketika dia nekat menyebrang jalan padahal banyak mobil melintas
cepat, bapak ikut menyebrang, tapi bapak tersandung lubang ditengah jalan. Di
saat seperti itu, ada sebuah sedan yang ngebut ke arah bapak, terdengar suara
rem keras namun mobil masih...Tunggu Part 3 nya
Penulis : HD Gumilang

0 komentar:
Posting Komentar