Selasa, 04 Maret 2014

Sepucuk Surat Buat Ukhti dan Terbalaskan (Part 2)



“Mbak boleh tau, siapa nama orang itu?”
“Namanya.. Is… Ismiyanto…”
“Hah, Ismiyanto?!”
“Iya, kenapa Mbak?”
“Taukah, bahwa Ismiyanto itu… adalah nama orang yang ingin mengkhitbahmu!!”
“Be.. benarkah, Mbak??” tutur Putri terbata, “ Ismiyanto yang dulu SMA sama dengan saya?”
Mbak Ira mengangguk.
“Yang dulu aktif di rohisnya?”
Kembali mbak Ira mengangguk, kini butir air mata mulai menetes dari matanya.
“Ya Allah… Allahuakbar… Allahuakbar… Allah… Allahuakbar…” takbir Putri terdengar lirih, Lantas dia beranjak dari kursinya dan memeluk Mbak Ira, menangis sedu sedan dalam dekapan hangat Mbak Ira.

“Subhanallah, inilah jalan yang Allah peruntukkan bagimu dik. Jalan cinta yang agung yang hanya diberikan kepada hambaNya yang ikhlas dan ridho terhadap ketetapanNya.”
Sejurus kemudian Mbak Ira menunjukkan selembar foto Ismiyanto, untuk memastikan bahwa dia tidak keliru. Secepat kilat Putri mengangguk, bahwa memang itu adalah Ismiyanto, yang selama enam tahun ini dia cintai dalam diam dan tak seorang manusia pun mengetahuinya. Seketika itu pula Putri teringat kalimat Ismiyanto dalam suratnya.
Cukup kepada Allah lah engkau akui memiliki cinta dan jangan beritahukan cinta itu kepada manusia, cukup cintai dalam diam. Insya Allah, segalanya akan sesuai dengan kehendak-Nya.

LIMA
Minggu sore itu, tiga hari setelah peristiwa peminangan Ismiyanto melalui Mbak Ira kepadanya, seluruh keluarga Putri sedang berkumpul. Memang cukup sulit bagi Putri mengumpulkan keluarganya, padahal keinginan menyampaikan berita gembira itu sudah membuncah sejak detik dimana dia dikhitbah melalui Mbak Ira. Namun kesibukan ayahnya yang seorang Polisi di Kota Bandung dan memiliki jabatan tinggi pada institusinya, aktivitas Ibu nya yang mengajar sebagai dosen di berbagai kampus serta keasyikan adiknya dengan dunianya sendiri menyulitkan dia untuk berinteraksi dengan mereka semua. Sementara kakaknya sendiri kini sedang bekerja sebagai staf ahli multimedia di luar pulau Jawa.
Terus terang, Putri seringkali merasa hampa, sendiri dirumahnya. Karena itulah dia selalu mencari kesibukan dan berbagai aktivitas. Selain berkecimpung di dunia jurnalistik dan komunitas sastra. Dia pun aktif memberikan privat kepada anak-anak SMP di sebuah lembaga privat, kemudian ikut les Biola di dekat rumahnya di bilangan Jatinangor. Namun, Putri tetap bersyukur, karena dengan kerumitan kondisi keluarganya ini, dia masih menyalurkan segalanya dalam wadah positif. Seringkali dia sedih saat melihat realitas anak-anak broken home yang salah jalan, pergaulan bebas, dekat dengan narkoba dan berbagai macam kenakalan remaja lainnya.
Dan Putri pun ingin merangkul mereka, membawa mereka supaya dekat kepada Allah, memberitahukan pada mereka yang salah jalan itu bahwa dekat dengan Allah itu ternyata indah, nyaman dan penuh kenikmatan. Berbagi kebahagiaan dan berbagi hidayah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah seru sekalian alam karena Putri menyadari, tanpa bantuanNya, mungkin dia tidak akan seperti ini sekarang.
Maka, sore itu ditemani Mbak Ira yang memang sengaja datang untuk menemaninya, dia mengutarakan yang beberapa hari ini tertunda.
Semuanya berjalan lancar, Mbak Ira membantu menyampaikan maksud khitbah dari seorang bernama Ismiyanto kepada Putri. Kemudian menceritakan kepribadian Ismiyanto, bahwa dia shalih dan dari keluarga yang taat beragama insya Allah, sudah lulus SI Jurusan Sejarah sebuah universitas di Jogjakarta dengan predikat memuaskan, kini bekerja sebagai peneliti di Museum Sribaduga Bandung sekaligus dia menjadi salah satu founder yayasan sosial yang membantu kaum dhuafa dan yatim piatu. Ternyata respon Bapak dan Ibu Putri sangat baik. Terlebih setelah mereka tau bahwa Putri sudah mengenal Ismiyanto sejak SMA namun rasa cinta Putri itu dipendam dalam hati selama enam tahun hingga Putri sendiri tidak mengetahui dimanakah keberadaan Ismiyanto selama ini sampai pada akhirnya Allah kembali mempertemukan mereka melalui Mbak Ira saat ini.
 “Boleh bapak lihat foto dia, nak?” pinta Bapak Putri. Kemudian Mbak Ira menyerahkan selembar Foto Ismiyanto kepada beliau.
Wajah Pak Iskandar mendadak berkerut, pucat, dan keanehan lainnya.
“TIDAK!” suara Pak Iskandar menggelegar secara mengejutkan.
Seketika suasana ruangan itu hening, sunyi senyap. Semuanya terkejut.
“Tidak, tidak apa pak?” sahut Putri penuh tanya, sementara Ibu dan Mbak Ira terheran-heran.
“TIDAK! Bapak tidak akan menikahkan kamu dengan anak ini!”
“kenapa, pak?” Tanya Putri parau, serasa harapan dalam hatinya dikikis dengan silet, sakit sekali.
“Lihat, penampilan wajahnya seperti teroris! Jidat hitam. Ada janggut tipisnya, wajahnya yang penuh sorot yang bapak tidak sukai.”
“Tapi Pak..” sergah Mbak Ira, “Dia bukan teroris, penampilannya sangat islami seperti itu karena dia aktif di Lembaga Dakwah Kampus di Jogjakarta.”
“Pokoknya bapak tidak suka. Kamu tau, bapak polisi. Bapak tau sifat seseorang dilhat dari wajahnya. Pokoknya tidak, bapak tidak setuju Putri menikah dengan dia!”
Keputusan final Bapak bagaikan palu godam yang menghujam hati Putri dengan sangat telak. Harapan yang sempat dia renda dengan seutuh hati harus hancur seperti itu saja.
Semua terdiam, tak ada yang berani membantah kalimat pamungkas Pak Iskandar itu.

ENAM
Genap seminggu sejak peristiwa penolakan bapak atas khitbah Ismiyanto, hati Putri masih belum pulih benar atas kenyataan yang harus dihadapinya. Rasa cintanya begitu dalam kepada Ismiyanto. Dan ada rasa sakit ketika Ismiyanto dituduh oleh bapaknya sendiri memiliki wajah teroris hanya karena dia memelihara janggut. Apakah benar seperti itu? Dan apakah memang seperti itu semua polisi memandang setiap lelaki yang berjanggut? Lalu jika demikian, maka setiap orang yang berjanggut baik yang ada di masjid, yang jadi supir angkot, yang jadi cleaning service, yang jaga warung,  yang selama ini berceramah dimana-mana, semua itu berarti teroris? Ah, jika memang demikian maka alangkah sempitnya pemikiran bapaknya itu, desah Putri dalam hatinya.
Astagfirullah Aku tidak boleh berburuk sangka. Bagaimanapun juga, beliau bapakku, yang membesarkanku. Ya Allah, ampuni aku.”
Dan pada akhirnya dia menyadari bahwa cinta kepada Allah harus lebih utama dan lebih dalam.
Ukhti, jika engkau mencintai sesuatu, cintailah karena Allah, berusahalah tuk mendapatkan keridhoanNya. Dengan cintaNya, dengan kasih sayangNya. Usahakanlah bagi ukhti, untuk dapat menarik simpati Allah saja. Janganlah ukhti berlaku berlebihan dihadapan manusia ( untuk menarik simpati mereka ) sehingga diri ukhti kepayahan olehnya. Janganlah ukhti seperti itu, walau hasilnya besar. Ukhti mendapatkan simpati dan sanjungan dari manusia, namun ukhti menjadi lupa bagaimana cara menarik simpati Allah.
Dia kembali teringat nasehat Ismiyanto dalam surat itu enam tahun yang lalu. Putri sadar, Ismiyanto benar, seharusnya cinta kepada Allah harus di utamakan. Jangan berpikir untuk mendapatkan simpati dari manusia sementara dia akhirnya lupa bagaimana cara menarik simpati Allah. Maka dengan segenap ridho atas kejadian itu, Putri memilih untuk kembali bersemangat di jalanNya. Yakin bahwa jodohnya sudah ada dalam lauh mahfudz. Tak ada masalah, semuanya Allah yang membuat skenario kehidupannya.
“Bapak akan carikan Putri jodoh, kalau Putri memang sudah ingin menikah. Tapi bukan dengan lelaki yang kemarin itu.” Bilang pak Iskandar.
Putri membisu di kamarnya. Pak Iskandar mengelus dengan lembut rambut anaknya itu. Sebetulnya Putri tau benar betapa besar rasa sayang orangtua kepadanya. Mereka menginginkan anaknya ini menikah dengan lelaki yang betul-betul bisa menjaganya.

TUJUH
Smartphone Putri berdering..
 “Telepon dari Bapak? Heran tak biasanya bapak menelepon siang hari seperti ini. Assalamu’alaikum, ada apa pak?” sapa Putri menjawab telepon.
“Wa’alaikum salam. Kamu dimana, Nak?”
“Di kampus pak. Ada apa?”
“Kamu ke Rumah Sakit Al Islam sekarang! Segera.”
“Lho, ada apa? Putri ke sana sekarang.”
Dengan penuh tanda Tanya, Putri menuju parkiran kampus, menstarter Mio Putihnya lalu berangkat menuju Al Islam.

TUJUH
Lantai dua Rumah Sakit Al Islam saat itu Nampak tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang lalu lalang menyusuri koridornya. Di sebuah sudut tempat duduk, Pak Iskandar sedang gelisah, bibirnya tak henti berdo’a. tak lama kemudian, Putri datang dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa, pak?” kata Putri mengatur nafasnya yang terengah.
Pak Iskandar langsung memeluk anak perempuannya ini dengan penuh haru, baju dinasnya sudah basah oleh keringat dari tadi.
“Maaf..  maafkan bapak, nak. Maafkan bapak..” sebuah kalimat pelan terucap dari bapaknya.
“Kenapa bapak minta maaf?”
“Duduk.. duduklah nak. Akan bapak ceritakan.”
Lalu keduanya duduk, angin berhembus pelan membelai jilbab hijau panjang milik Putri.
“Beberapa hari lalu bapak ikut shalat jum’at di Masjid Raya Bandung. Isi khutbahnya menarik sekali. Khatib menceritakan mengenai esensi kehidupan kita di dunia ini bahwa sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. Perasaan bapak seperti diaduk-aduk, penuh penyesalan bahwa selama ini hidup bapak tidak baik. Bapak berpikir, bagaimana jika suatu hari nanti bapak meninggal namun tidak memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi pengadilan Allah di hari kiamat kelak. Sungguh penjelasan khatib muda itu begitu menyentuh hati bapak. Betapa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat sementara amanah yang dibebankan itu sangat banyak dan rasanya tidak akan selesai dengan rentang waktu usia kita yang sangat terbatas ini. Dan kita dianjurkan untuk mengoptimalkan sisa waktu yang dimiliki ini untuk menabung amal kebaikan, bermanfaat bagi banyak orang karena semua itu adalahh anjuran dari Allah. Bapak perhatikan wajah khatib muda itu, rasanya bapak kenal tapi tidak tau dimana. Maka ya sudah, bapak tidak ambil pusing, mungkin kenal dijalan.
Lalu, pagi tadi bapak bersama beberapa petugas kepolisian lain melakukan penggerebekan terhadap Bandar judi di sekitar Peti Kemas Gedebage. Bapak ikut melakukan pengejaran terhadap gembong Bandar judi itu. Menembakan tembakan peringatan ke udara. Fokus bapak adalah si gembongnya itu. Tapi dia tidak mau menyerahkan diri, maka bapak terus mengejarnya. Hingga tiba di jalan raya Sukarno-Hatta bapak tidak berani melakukan tembakan karena banyak warga. Ketika dia nekat menyebrang jalan padahal banyak mobil melintas cepat, bapak ikut menyebrang, tapi bapak tersandung lubang ditengah jalan. Di saat seperti itu, ada sebuah sedan yang ngebut ke arah bapak, terdengar suara rem keras namun mobil masih...

Tunggu Part 3 nya

Penulis : HD Gumilang

0 komentar:

Posting Komentar

 

Page Views

Subscribe via Email
Flag Counter

Histats

About