Selasa, 04 Maret 2014

Sepucuk Surat Buat Ukhti dan Terbalaskan (Part 3 Habis)



melaju kencang. Waktu itu bapak pasrah, tapi tiba-tiba ada yang mendorong bapak ke pinggir jalan. Lalu terdengar bunyi tabrakan. Bapak selamat, tapi orang yang menolong bapak itu tertabrak dan terlempar beberapa meter. Bapak buru-buru melihat penolong bapak itu sementara petugas lain langsung menghampiri dan membawanya ke Al Islam. Saat bapak saksikan, ternyata wajahnya sama dengan yang menjadi khatib Jum’at waktu itu. Dan… “
Bapak menarik nafas sejenak, tak ingin air mata yang mau menetes dari wajahnya itu diketahui anaknya, namun tetap saja, ada butiran yang mengalir pada akhirnya.
“Dan.. setelah bapak ingat kembali, wajah khatib muda penyelamat bapak itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang tempo hari mengkhitbahmu, Ismiyanto…” lalu tangis Pak Iskadar tak tertahankan lagi, dia memeluk Putri erat.

Sementara Putri terkejut bukan alang kepalang, rasanya seluruh persendian tubuhnya copot. Lemas. Sekuat tenaga dia menahan untuk tidak jatuh.
 “Maafkan, maafkan bapak nak. Waktu itu ternyata bapak salah menilai. Ternyata Ismiyanto berhati malaikat. Maafkan bapak nak, telah menilai Ismiyanto dengan perkataan buruk pada waktu itu. Ismiyanto bukanlah wajah seorang teroris tetapi merupakan wajah seorang muslim yang taat, muslim yang menebarkan banyak kebaikan dan memberikan keteduhan bagi setiap orang.”
Putri tak kuasa menahan tangis, rasa syukur kepada Allah.
“Dan, bapak berjanji, jika Ismiyanto selamat, bapak akan menikahkan kamu dengan dia, nak!”
Putri hanya sanggup merintih penuh rasa syukur dan tangis tak terbendung, dia memeluk bapaknya dengan penuh keharuan.
Betapa penantian panjangnya ini menuju titik puncak. Betapa kesabarannya selama ini mendapatkan ridho dari Allah. Betapa besar kasih sayang Allah kepadanya, menjaga cintanya dari hal yang dilarang, memberikan cahaya kedamaian kepada bapaknya. Menyediakan sebuah jalan yang indah untuk merangkai bait-bait cintanya.
Tak lama kemudian seorang dokter yang merawat Ismiyanto keluar dari ruang perawatan menghampiri mereka berdua.
“Dok, bagaimana keadaan Ka’Is?” Tanya Putri penuh harap. Dia tersipu malu, kenapa dia duluan yang bertanya bukan bapaknya dulu. Dan dia kembali teringat, sapaan Ka’Is adalah sapaanya sewaktu SMA, enam tahun lampau.
“Alhamdulillah, Allah mencintai pemuda ini. Lukanya tidak parah, hanya retak bagian pinggulnya, Karena benturan dengan bibir mobil. Namun tidak apa-apa, insya Allah bisa sembuh. Tekanan darahnya juga normal. Bersyukurlah, Allah menyelamatkan jiwa pemuda ini, pasti banyak kebaikan yang telah dilakukannya sehingga Allah senantiasa menjaganya dari marabahaya. Oh iya, jangan lupa segera hubungi keluarganya supaya beliau semakin dikuatkan. Maaf saya pamit dulu, ada pasien lain yang harus saya rawat.”
Dalam hati keduanya bersyukur kepada Allah, bersyukur Allah telah menyelamatkan Ismiyanto.

DELAPAN
Hanya tiga hari Ismiyanto dirawat di Al Islam, setelah itu keluarganya membawa dia pulang ke kampung halamannya di Cianjur untuk dirawat oleh pamannya yang memiliki keahlian dalam mengobati tulang secara alternatif. Ya, meskipun bagian pinggulnya saja yang retak namun itu sungguh mengganggu aktivitasnya. Dia belum bisa berdiri lama-lama. Pamannya ini sendiri dulu pernah mengobatinya ketika tangannya patah. Waktu itu, dokter bilang untuk menyambungkan kembali tangan Ismiyanto butuh waktu sekitar satu tahun, namun dengan keahlian yang dimiliki sang paman, dalam tempo dua bulan akhirnya tangan Ismiyanto sudah bisa menyambung lagi.
Dan demi kesembuhannya itu pula, dia diijinkan mengambil cuti dari Museum Sribaduga sampai sembuh. Ismiyanto berharap dalam waktu dekat bisa sembuh, minimal kondisinya bisa lebih baik untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.

SEMBILAN
Enam tahun mengembara mencari ilmu dan menjauhi Putri agar terjaga dari fitnah. Menghilang dari radar kehidupan Putri supaya dia bisa tenang menemukan dan mengokohkan cintanya. Karena dia sendirilah yang mengatakan untuk lebih mencintai Allah terlebih dahulu daripada mencintai makhluk, maka dia berupaya untuk mencintai Allah, kemudian ridho atas ketentuan Allah.
Jaringan luas yang dia miliki, ketika dia merasa sudah mantap untuk mengkhitbah Putri, melalui link itulah dia menemukan dimanakah Putri sekarang berada.
Seperti inilah jalan yang Allah tetapkan baginya, maka selesai shalat dhuha sebelum berangkat ke tempat akad nikah di Bandung, dia berdo’a..
”Ya Allah ya Rahman, betapa agung jalan yang Engkau siapkan bagiku. Betapa tak terhingganya bahagia dalam hati ini. Betapa rasa syukur senantiasa menggetarkan jiwa ini. Ya Allah, pada hari ini, Engkau telah ridhoi aku untuk mewujudkan harapan yang selama enam tahun ini hamba pendam. Rasa syukurku tiada terkira kepadaMu ya Allah. Sungguh berapa juta kalipun ku berucap, kebahagiaanlah yang akan senantiasa terlontar. Betapa indah, betapa indah jalan cintaMu ya Rabbi.”
Lalu sujud syukur yang menggetarkan sanubarinya.
Perjalanan menuju Bandung betapa indahnya, berbahagianya, menggetarkan hatinya. Senyuman tak lepas darinya. Indah karena hari ini akan terwujudlah cita-citanya. Maka dua jam waktu yang ditempuh tak terasa sudah tiba di tempat tujuan.
Setelah rangkaian acara seremonial, maka tibalah acara inti, akad nikah.
Ismiyanto dikelilingi oleh wali nikah, pencatat dari KUA dan kerabat keluarga, jajaran kepolisian serta teman-teman dari kedua mempelai yang ikut memenuhi Masjid Kampus itu. Sementara di jarak yang tidak terlalu jauh, Putri Praningtias berdegup kencang menunggu pengesahannya sebagai istri dari Ismiyanto. Dia pun berterima kasih kepada teman-teman di dakwah kampus yang telah membantu melancarkan rangkaian acara walimahan ini. Ada keringat yang menetes, karena ketegangan yang membahagiakan tentunya.
“Saudara Ismiyanto bin Hasan Sayuti apakah engkau bersedia menerima Putri Praningtias binti Iskandar Zulkarnain sebagai istrimu?”
“Ya, saya bersedia!” Jawab Ismiyanto mantap.
“Baik, saya nikahkan anak kandung saya, Putri Praningtias binti Iskandar Zulkarnain dengan mas kawin emas seberat duapuluh gram dan mushaf al Qur’an serta bacaan surah Ar Rahmaan ayat satu sampai enambelas dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Putri Praningtias binti Iskandar Zulkarnain dengan Mas kawin emas seberat duapuluh gram dan mushaf al Qur’an serta bacaan surah Ar Rahmaan ayat satu sampai enambelas dibayar tunai.” Jawab Ismiyanto tegas. Kemudian dia membacakan surah Ar Rahmaan.
’audzubillahi minasyaithannir rajiim. Bismillahir rahmaanir rahiim. Ar rahmaan, allamal qur’aan, khalaqal insaan, allamahul bayaan, assyamsu wal qamaru bi husbaan, wan najmu was sajaru ya judaan, wassama’a rafa’aha wa waa dha’al miizan, alla tat khaufil miizaan, wa aqimul wadzna bil qisti walaa tuhsirul miizan, wal ardho wadha’aha li aanaam, fiiha faa qihataw wanahlu dzaatul akmam, wal habbu dzul asyfi warraihaan, fabiayyi alaa irobbikuma tukadzdzibaan, khalaqal insaana min sholshoolin kal fakhaar, wa khalaqal jaanna mimmaa rizimmin naar, fabiayyi alaa irobbikuma tukadzdzibaan.
Tuhan Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan al Qur’an, Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai berbicara, Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNYA, dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca keadilan, supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, dan tegakanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu, dan Allah telah meratakan bumi untuk makhlukNYA, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan seluruh penjuru masjid pun bergemuruh hanyut dalam lantunan bacaan Ismiyanto. Hanyut dalam renungan, betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, betapa kita diingatkan untuk tidak pernah melupakan apa yang telah Allah karuniakan.
Maka setelah semuanya sah, seluruh hadirin memanjatkan do’a kepada dua mempelai ini, yang baru saja mengikatkan ikrar suci, sehidup semati, dalam naungan cinta ilahi, menuju kebahagiaan yang abadi, cinta Allah yang hakiki.
Barakallahu laka wabaraka alaika, jama’a bainakuma fi khair, insya Allah..

EPILOG
Pagi hari yang cerah, ada sepucuk surat tergeletak di meja belajar Putri. Perlahan dia membukanya. Benaknya sudah bisa menebak, itu dari Ka’Is tercinta yang baru saja keluar rumah untuk berolahraga.
Teruntuk Istriku tercinta
Putri Praningtias
Istriku, aku ingin berterusterang kepadamu betapa aku mencintaimu. Mengharapkan ridha Allah dengan pernikahan kita ini. Tak ada alasan lain untuk menikahimu selain ingin meneladani sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa kerinduan itu sangat terpancar jelas tatkala membaca jejak-jejak peri kehidupan sang Baginda dalam meniti rumah tangga. Menyapamu dengan sapaan terindah. Mengecup keningmu penuh rasa sayang. Menggenggam erat tanganmu saat kita berjalan. Makan bersama. Minum bersama. Aku akan berusaha selalu baik kepadamu, sebagaimana sabda Rasulullah, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.”
Aku merasakan apa yang engkau rasakan. Aku telah memikirkanmu sebelum engkau sempat memikirkanku. Aku ingin mengekspresikan rasa cintaku kepadamu dengan sederhana dan bersahaja. Memperlakukan dirimu dengan lembut dan penuh perhatian karena engkau begitu berharga bagiku, wahai bidadari syurgaku.
Di sini, kita akan membangun sebuah keluarga yang membuahkan ketenteraman dan kedamaian hati. Penuh dengan cinta yang meluap-luap menuju muara cinta-Nya. Hingga pada akhirnya, buah dari itu semua adalah melahirkan generasi-generasi terbaik yang menjadi penyejuk jiwa kita.
                                                                                    Suamimu tercinta, Ismiyanto
NB: Istriku, setelah membaca surat ini, bergegaslah ke taman depan rumah, ada kejutan dariku untukmu. Lihatlah keluar jendela kamar kita ini.
Putri memandang jendela dengan wajah merah merona, di sana ada suaminya menanti. Ia pun bergegas membenahi jilbabnya kemudian keluar menghampiri lelaki sederhana yang dicintai sepenuh hati itu.

-tamat-

1 komentar:

 

Page Views

Subscribe via Email
Flag Counter

Histats

About