melaju kencang.
Waktu itu bapak pasrah, tapi tiba-tiba ada yang mendorong bapak ke pinggir
jalan. Lalu terdengar bunyi tabrakan. Bapak selamat, tapi orang yang menolong
bapak itu tertabrak dan terlempar beberapa meter. Bapak buru-buru melihat
penolong bapak itu sementara petugas lain langsung menghampiri dan membawanya
ke Al Islam. Saat bapak saksikan, ternyata wajahnya sama dengan yang menjadi
khatib Jum’at waktu itu. Dan… “
Bapak menarik nafas
sejenak, tak ingin air mata yang mau menetes dari wajahnya itu diketahui
anaknya, namun tetap saja, ada butiran yang mengalir pada akhirnya.
“Dan.. setelah
bapak ingat kembali, wajah khatib muda penyelamat bapak itu mirip sekali dengan
wajah lelaki yang tempo hari mengkhitbahmu, Ismiyanto…” lalu tangis Pak Iskadar
tak tertahankan lagi, dia memeluk Putri erat.
Sementara Putri
terkejut bukan alang kepalang, rasanya seluruh persendian tubuhnya copot.
Lemas. Sekuat tenaga dia menahan untuk tidak jatuh.
“Maafkan,
maafkan bapak nak. Waktu itu ternyata bapak salah menilai. Ternyata Ismiyanto
berhati malaikat. Maafkan bapak nak, telah menilai Ismiyanto dengan perkataan
buruk pada waktu itu. Ismiyanto bukanlah wajah seorang teroris tetapi merupakan
wajah seorang muslim yang taat, muslim yang menebarkan banyak kebaikan dan
memberikan keteduhan bagi setiap orang.”
Putri tak kuasa
menahan tangis, rasa syukur kepada Allah.
“Dan, bapak berjanji,
jika Ismiyanto selamat, bapak akan menikahkan kamu dengan dia, nak!”
Putri hanya sanggup
merintih penuh rasa syukur dan tangis tak terbendung, dia memeluk bapaknya
dengan penuh keharuan.
Betapa penantian
panjangnya ini menuju titik puncak. Betapa kesabarannya selama ini mendapatkan
ridho dari Allah. Betapa besar kasih sayang Allah kepadanya, menjaga cintanya
dari hal yang dilarang, memberikan cahaya kedamaian kepada bapaknya.
Menyediakan sebuah jalan yang indah untuk merangkai bait-bait cintanya.
Tak lama kemudian
seorang dokter yang merawat Ismiyanto keluar dari ruang perawatan menghampiri
mereka berdua.
“Dok, bagaimana
keadaan Ka’Is?” Tanya Putri penuh harap. Dia tersipu malu, kenapa dia duluan
yang bertanya bukan bapaknya dulu. Dan dia kembali teringat, sapaan Ka’Is
adalah sapaanya sewaktu SMA, enam tahun lampau.
“Alhamdulillah,
Allah mencintai pemuda ini. Lukanya tidak parah, hanya retak bagian pinggulnya,
Karena benturan dengan bibir mobil. Namun tidak apa-apa, insya Allah bisa
sembuh. Tekanan darahnya juga normal. Bersyukurlah, Allah menyelamatkan jiwa
pemuda ini, pasti banyak kebaikan yang telah dilakukannya sehingga Allah
senantiasa menjaganya dari marabahaya. Oh iya, jangan lupa segera hubungi
keluarganya supaya beliau semakin dikuatkan. Maaf saya pamit dulu, ada pasien
lain yang harus saya rawat.”
Dalam hati keduanya
bersyukur kepada Allah, bersyukur Allah telah menyelamatkan Ismiyanto.
DELAPAN
Hanya tiga hari
Ismiyanto dirawat di Al Islam, setelah itu keluarganya membawa dia pulang ke
kampung halamannya di Cianjur untuk dirawat oleh pamannya yang memiliki
keahlian dalam mengobati tulang secara alternatif. Ya, meskipun bagian
pinggulnya saja yang retak namun itu sungguh mengganggu aktivitasnya. Dia belum
bisa berdiri lama-lama. Pamannya ini sendiri dulu pernah mengobatinya ketika
tangannya patah. Waktu itu, dokter bilang untuk menyambungkan kembali tangan
Ismiyanto butuh waktu sekitar satu tahun, namun dengan keahlian yang dimiliki
sang paman, dalam tempo dua bulan akhirnya tangan Ismiyanto sudah bisa
menyambung lagi.
Dan demi
kesembuhannya itu pula, dia diijinkan mengambil cuti dari Museum Sribaduga
sampai sembuh. Ismiyanto berharap dalam waktu dekat bisa sembuh, minimal
kondisinya bisa lebih baik untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
SEMBILAN
Enam tahun
mengembara mencari ilmu dan menjauhi Putri agar terjaga dari fitnah. Menghilang
dari radar kehidupan Putri supaya dia bisa tenang menemukan dan mengokohkan
cintanya. Karena dia sendirilah yang mengatakan untuk lebih mencintai Allah
terlebih dahulu daripada mencintai makhluk, maka dia berupaya untuk mencintai
Allah, kemudian ridho atas ketentuan Allah.
Jaringan luas yang
dia miliki, ketika dia merasa sudah mantap untuk mengkhitbah Putri, melalui link
itulah dia menemukan dimanakah Putri sekarang berada.
Seperti inilah
jalan yang Allah tetapkan baginya, maka selesai shalat dhuha sebelum berangkat
ke tempat akad nikah di Bandung, dia berdo’a..
”Ya Allah ya
Rahman, betapa agung jalan yang Engkau siapkan bagiku. Betapa tak terhingganya
bahagia dalam hati ini. Betapa rasa syukur senantiasa menggetarkan jiwa ini. Ya
Allah, pada hari ini, Engkau telah ridhoi aku untuk mewujudkan harapan yang
selama enam tahun ini hamba pendam. Rasa syukurku tiada terkira kepadaMu ya
Allah. Sungguh berapa juta kalipun ku berucap, kebahagiaanlah yang akan
senantiasa terlontar. Betapa indah, betapa indah jalan cintaMu ya Rabbi.”
Lalu sujud syukur
yang menggetarkan sanubarinya.
Perjalanan menuju
Bandung betapa indahnya, berbahagianya, menggetarkan hatinya. Senyuman tak
lepas darinya. Indah karena hari ini akan terwujudlah cita-citanya. Maka dua
jam waktu yang ditempuh tak terasa sudah tiba di tempat tujuan.
Setelah rangkaian
acara seremonial, maka tibalah acara inti, akad nikah.
Ismiyanto
dikelilingi oleh wali nikah, pencatat dari KUA dan kerabat keluarga, jajaran
kepolisian serta teman-teman dari kedua mempelai yang ikut memenuhi Masjid
Kampus itu. Sementara di jarak yang tidak terlalu jauh, Putri Praningtias
berdegup kencang menunggu pengesahannya sebagai istri dari Ismiyanto. Dia pun
berterima kasih kepada teman-teman di dakwah kampus yang telah membantu
melancarkan rangkaian acara walimahan ini. Ada keringat yang menetes, karena
ketegangan yang membahagiakan tentunya.
“Saudara Ismiyanto
bin Hasan Sayuti apakah engkau bersedia menerima Putri Praningtias binti
Iskandar Zulkarnain sebagai istrimu?”
“Ya, saya
bersedia!” Jawab Ismiyanto mantap.
“Baik, saya
nikahkan anak kandung saya, Putri Praningtias binti Iskandar Zulkarnain dengan
mas kawin emas seberat duapuluh gram dan mushaf al Qur’an serta bacaan surah Ar
Rahmaan ayat satu sampai enambelas dibayar tunai.”
“Saya terima
nikahnya Putri Praningtias binti Iskandar Zulkarnain dengan Mas kawin emas
seberat duapuluh gram dan mushaf al Qur’an serta bacaan surah Ar Rahmaan ayat
satu sampai enambelas dibayar tunai.” Jawab Ismiyanto tegas. Kemudian dia
membacakan surah Ar Rahmaan.
“’audzubillahi
minasyaithannir rajiim. Bismillahir rahmaanir rahiim. Ar rahmaan, allamal qur’aan,
khalaqal insaan, allamahul bayaan, assyamsu wal qamaru bi husbaan, wan najmu
was sajaru ya judaan, wassama’a rafa’aha wa waa dha’al miizan, alla tat khaufil
miizaan, wa aqimul wadzna bil qisti walaa tuhsirul miizan, wal ardho wadha’aha
li aanaam, fiiha faa qihataw wanahlu dzaatul akmam, wal habbu dzul asyfi
warraihaan, fabiayyi alaa irobbikuma tukadzdzibaan, khalaqal insaana min
sholshoolin kal fakhaar, wa khalaqal jaanna mimmaa rizimmin naar, fabiayyi alaa
irobbikuma tukadzdzibaan. ”
Tuhan Yang Maha
Pemurah, yang telah mengajarkan al Qur’an, Dia menciptakan manusia,
mengajarkannya pandai berbicara, Matahari dan bulan beredar menurut
perhitungan, dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepadaNYA,
dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca keadilan, supaya
kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, dan tegakanlah timbangan itu
dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu, dan Allah telah meratakan
bumi untuk makhlukNYA, di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang
mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang
harum baunya, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia
menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin
dari nyala api tanpa asap, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu
dustakan?
Dan seluruh penjuru
masjid pun bergemuruh hanyut dalam lantunan bacaan Ismiyanto. Hanyut dalam
renungan, betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, betapa
kita diingatkan untuk tidak pernah melupakan apa yang telah Allah karuniakan.
Maka setelah
semuanya sah, seluruh hadirin memanjatkan do’a kepada dua mempelai ini, yang
baru saja mengikatkan ikrar suci, sehidup semati, dalam naungan cinta ilahi,
menuju kebahagiaan yang abadi, cinta Allah yang hakiki.
Barakallahu laka
wabaraka alaika, jama’a bainakuma fi khair, insya Allah..
EPILOG
Pagi hari yang
cerah, ada sepucuk surat tergeletak di meja belajar Putri. Perlahan dia
membukanya. Benaknya sudah bisa menebak, itu dari Ka’Is tercinta yang baru saja
keluar rumah untuk berolahraga.
Teruntuk Istriku
tercinta
Putri Praningtias
Istriku, aku ingin
berterusterang kepadamu betapa aku mencintaimu. Mengharapkan ridha Allah dengan
pernikahan kita ini. Tak ada alasan lain untuk menikahimu selain ingin
meneladani sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa kerinduan itu
sangat terpancar jelas tatkala membaca jejak-jejak peri kehidupan sang Baginda
dalam meniti rumah tangga. Menyapamu dengan sapaan terindah. Mengecup keningmu
penuh rasa sayang. Menggenggam erat tanganmu saat kita berjalan. Makan bersama.
Minum bersama. Aku akan berusaha selalu baik kepadamu, sebagaimana sabda
Rasulullah, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya diantara mereka. Dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik
terhadap istrinya.”
Aku merasakan apa
yang engkau rasakan. Aku telah memikirkanmu sebelum engkau sempat memikirkanku.
Aku ingin mengekspresikan rasa cintaku kepadamu dengan sederhana dan bersahaja.
Memperlakukan dirimu dengan lembut dan penuh perhatian karena engkau begitu
berharga bagiku, wahai bidadari syurgaku.
Di sini, kita akan
membangun sebuah keluarga yang membuahkan ketenteraman dan kedamaian hati.
Penuh dengan cinta yang meluap-luap menuju muara cinta-Nya. Hingga pada
akhirnya, buah dari itu semua adalah melahirkan generasi-generasi terbaik yang
menjadi penyejuk jiwa kita.
Suamimu tercinta, Ismiyanto
NB: Istriku,
setelah membaca surat ini, bergegaslah ke taman depan rumah, ada kejutan dariku
untukmu. Lihatlah keluar jendela kamar kita ini.
Putri memandang
jendela dengan wajah merah merona, di sana ada suaminya menanti. Ia pun
bergegas membenahi jilbabnya kemudian keluar menghampiri lelaki sederhana yang
dicintai sepenuh hati itu.
-tamat-

Hm
BalasHapus